Minggu, 26 Desember 2010

Tujuan hidup

Seketika sore itu saya terperangah. Betapa tidak, saya bertemu dengan seseorang berpakaian lusuh dan compang camping. Sekilas, saya berpikir dia merupakan seorang pengemis, yang kerap nampak di pinggir jalan sebagai akibat kejamnya dunia. Jujur saja, saya kerap berfikiran negatif pada pengemis, karena mereka memilih untuk menjadi pengemis, dan tidak bekerja entah walaupun hanya sebagai buruh kasar. Namun orang yang aku kira pengemis ini berbeda. Sorot wajahnya, guratan di pipinya, tidak salah lagi, pikirku!!
“Gustavoo...!!! “ seruku memanggil,dan ia pun menoleh. Seakan ingin menghindar, namun tangan kananku sudah terlebih dahulu mencengkram bahunya.
“Ya, ini kau gustavo,bukan??? Apa yang terjadi denganmu, kawanku?? “ seruku bertanya padanya.
“Halo kawan lamaku, lama tidak berjumpa. Maafkan aku kita bertemu dengan kondisi seperti ini” selorohnya.
“Apa yang terjadi dengan kau, kawanku?? Ceritakanlah padaku.” sahutku dengan penuh prihatin.
Kamipun akhirnya memutuskan untuk berhenti di sebuah warung makan sederhana untuk berbincang-bincang. Tak kala pesanan kami datang, Gustavo langsung melahap habis makanannya, membuat perasaan ibaku muncul seraya menyerahkan pesananku padanya.

Sebagai informasi, Gustavo adalah seorang kawan lamaku ketika kami duduk di bangku perkuliahan. Ia termasuk orang yang cerdas, memiliki kepribadian yang keras dan tidak mau kalah. Ia bahkan lulus jauh lebih cepat dibandingkan saya, yang kerap menjadi bulan-bulanan ketika dosen membagikan nilai ujian kami. Setelah lulus, ia langsung mendapatkan pekerjaan dengan posisi manajerial. Kabar terakhir yang aku tahu, sekitar 25 tahun yang lalu, ia bahkan sudah mencapai posisi asisten pimpinan perusahaan. Sebagai teman aku turut bangga, namun sekaligus sedih karena kami praktis tidak pernah berhubungan lagi sejak ia meninggalkan dunia kampus.

Rasa penasaran yang sudah mencapai ujung batas, membuatku pun memberanikan diri untuk membuka pembicaraan. Tak terkontrol lagi, aku pun berujar menanyakan mengenai kabar keluarganya. Jawaban yang aku dapatkan sungguh membuatku terperanjat. “Mereka meninggalkanku. Istriku menikah kembali, dan membawa serta semua anak-anakku. Bahkan anak-anakku tidak mau lagi memanggilku ‘Ayah’, seakan aku ini orang yang tidak berarti dalam hidup mereka”. Jawaban dari Gustavo membuatku makin pilu dan bertanya-tanya, dua sisi perasaan yang sangat berbeda namun mempunyai satu persamaan, Peduli.

Sembari menghisap dalam-dalam sebatang rokok pemberianku, ia pun mulai bertutur cerita. “Selesai lulus kuliah, aku bekerja pada perusahaan papan atas di Indonesia. Ketika itu aku sangat mencintai pekerjaanku. Betapa pekerjaan yang aku lakukan sungguh mulia, karena selain mengurusi karyawan bawahanku, aku juga turut mengurusi rakyat negara ini secara tidak langsung. Kami bersama-sama berusaha membangun citra perusahaan ini. Pasang dan surut itu wajar, namun kami berkeyakinan teguh, bahwa perusahaan ini akan mampu berkembang dan, suatu saat, mengaharumkan nama bangsa ini. Ketika itu, pemimpin utama perusahaan ini bernama Anatoly, seseorang yang memang berdedikasi tinggi terhadap tujuan perusahaan seraya menjadi figur ‘Bapak’ pada bawahannya. Hari demi hari terus berlanjut, sampai ketika masa pergantian kepemimpinan terjadi... ”. Sejenak Gustavo berhenti, air matanya berlinang. Aku menyodorkan sekotak tissue kepadanya sembari menepuk punggungnya.

“Pergantian pimpinan, yang tidak kami sangka-sangka, akan menjerumuskan kami ke dalam neraka! ” Sorot matanya menajam, napasnya menggebu-gebu, menandakan emosi luar biasa. “ Pada awalnya, semua berjalan dengan luar biasa. Program-program yang sudah dicanangkan berjalan sebagaimana mestinya. Proses pendanaan program baru, yang pada masa sebelumnya harus melalui kajian berliku yang memang merupakan standar prosedur perusahaan, mulai dipermudah. Tingkat kesejahterahan karyawan pun makin terjamin. Semua bagaikan berada di negeri dongeng, sampai kami tahu bahwa pemimpin perusahaan saat ini adalah seorang mafia.” Aku terbelak tak percaya. Setahuku, pemimpin perusahaan tempat Gustavo bekerja adalah seorang yang terpandang dan terhormat.

“Tidak berapa lama kemudian, borok dari pemimpin kami yang baru pun mulai terkuak. Dana program baru yang tidak jua kami terima, program-program lama yang terbengkalai, bahkan untuk menemui pimpinan perusahaan, aku harus melalui berbagai pos penjagaan ketat, seakan-akan menemui sorang presiden, meskipun aku adalah seorang asisten pimpinan, kau bayangkan. Perusahaan mulai goyah, tidak stabil, karyawan pun mulai resah.” Ia berhenti sejenak, sembari kembali menghisap batang rokok, yang entah sudah berapa batang.

“Kami tak menyangka, bahwa kami dipekerjakan untuk menstabilkan sebuah perusahaan, yang ternyata dipimpin oleh seorang mafia. Setiap kami bergerak maju 1 langkah, saat itu juga perusahaan mundur 2 langkah. Kebijakan perusahaan seakan-akan membuat kami tidak bisa bergerak, bahkan cenderung makin terpuruk. Tidur menjadi hal yang langka buatku. Setiap hari, makin kulihah wajah-wajah sedih bawahanku, wajah yang akan selalu aku coba ubah, apabila aku memiliki kekuatan untuk itu. Aku beranikan diri mengontak Anatoly. Aku ceritakan semuanya kepadanya. Ia menjawab akan membantuku sebisanya.
Tanpa diduga, Anatoly membuat keputusan sendiri dengan menggadaikan seluruh hartanya untuk menstimulus perusahaan.” Kembali matanya berkaca-kaca, perasaan iba menyeruak dari tubuhnya, seakan-akan dia sangat menyesali keputusannya Anatoly.

“Bisa ditebak, perusahaan tidak merespon stimulus Anatoly. Aku yang sudah kepalang tanggung pun, ikut meggadaikan seluruh hartaku. Bahkan aku sepakat meminjam uang kepada rentenir dan lintah darat. Seluruh dana yang sudah kami keluarkan bagai lenyap ditelan bumi. Kesemuanya diambil oleh pemimpin perusahaan dengan berbagai alasan.
Ketika rapat antar direksi dan pemilik perusahaan, aku beranikan untuk menyampaikan aspirasiku pada pemilik perusahaan. Dan apa yang terjadi?? Bahkan pemilik perusahaan seperti tidak punya kuasa untuk menggulingkan kursi sang pemimpin perusahaan!!” Aku terdiam tidak bisa berkata apa-apa, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?? seorang pemimpin perusahaan seharusnya mempunyai hak mutlak atas perusahaannya.

“Waktu terus berlalu dan aku pun frustasi. Tak terasa tanggal jatuh tempo hutangku sudah tiba. Bisa ditebak, aku pun tidak mampu membayarnya, dan pemimpin perusahaan malu kepadaku. Aku ditendang dengan paksa dari kantorku, dari DUNIAku!! seakan segala daya dan upayaku pada perusahaan hanyalah angin lalu bagi pemimpin persahaan. Tangis para karyawan mengiringi kepergianku. Perasaanku kecewa dan sedih, namun itu belum semua!! Gustavo berhenti sejenak untuk menenangkan dirinya.

“Di luar, aku dikejar oleh para algojo mafia. Keluarga besarku malu dan memandang jijik kepadaku. Istriku lari, bahkan anak-anakku tidak sudi memanggul nama balakangku. Begitulah kisahku, hingga kita bertemu hari ini”, serunya mengakhiri kisahnya.

Aku tertunduk lesu, berpikir jauh di dalam bawah sadarku, bahwa betapa tragisnya kisah perjalanan hidup temanku. Teman yang dahulu tinggal satu atap peraduan denganku, teman yang dahulu sering aku contoh ketika ujian, teman yang sering aku bangga-banggakan pada rekan kerjaku, bahwa aku punya teman yang turut memimpin sebuah perusahaan papan atas, meskipun kami tidak pernah lagi berhubungan, meskipun aku mungkin dilupakan olehnya. Bahwa dengan adanya kejadian ini, aku mulai berpikir, mampukah aku bertahan jika berada dalam posisinya. Sejenak aku memandang Gustavo, matanya masih memancarkan sorot aura tegas, meskipun mulai dikikis kisah tragis hidupnya. Badannya masih tegap, tidak mencermin bajunya yang compang camping dan robek disana sini.

“Jangan kau tatap aku dengan tatapan iba itu! “ tiba-tiba ia memecah kesunyian. “Aku bukan orang yang butuh dikasihani, aku bukan orang manja dan cengeng, yang ketika dunia menyiksaku, aku akan menangis meraung-raung kepadanya.” Sontak aku kaget, betapa temanku ini masih memiliki semangat hidup. Semangat untuk berjuang kembali memutar roda nasibnya, sesuatu yang mungkin tidak akan mampu aku lakukan.

“Tatapan harapan dari pegawai-pegawai yang mengiringi kepergianku, sudah cukup buatku untuk kembali berjuang dan memperjuangkan mereka” , serunya seakan menjawab pertanyaan yang hendak kulontarkan padanya. “Tidak akan pernah aku menyesal memperjuangkan apa yang menurutku dan menurut mereka benar, meskipun hidup dan nyawaku yang menjadi pertaruhaku.” Kembali, untuk kesekian kalinya aku tertegun.

“Gustavo yang sekarang kau temui ini masih sama dengan Gustavo yang kau kenal. Aku masi memiliki semangat, semangat untuk memuat perubahan pada perusahaan itu. Semangat yang akan tularkan pada orang lain dengan cara lain. Demo massa akan kulakukan, animo masyarakat akan aku serap. Tidak sudi aku perusahaan itu dipimpin oleh pihak yang salah. Suatu saat kebenaran akan menang, dan itu yang aku yakini” ujarnya penuh semangat.

“Hanya inilah semangat hidupku, dan hanya inilah bisa kuceritakan kepada orang lain. Semoga dari sekian banyak orang yang kutemui, akan muncul Gustavo-Gustavo baru yang mampu merongrong pimpinan perusahaan itu”, serunya sembari mengakhiri percakapan kami sore hari itu. Kami berjabat tangan dan saling mengucapkan salam perpisahan. Pertemuan yang tidak aku duga sebelumnya membuatku makin sadar, bahwa tanpa tujuan hidup, manusia itu hanyalah seonggok daging yang berjalan hilir mudik menghiasi dunia ini. Harapan, doa, dan keteguhan hati merupakan stimulus pada tujuan hidup, disaat kejamnya dunia mulai mengantui kemurnian hati. Karena aku yakin, tanpa kemurnian hati seonggok daging tersebut berevolusi menjadi binatang.

0 komentar: