
Sebelum memulai, terlebih dahulu saya jelaskan saya bukan orang ekstrimis. Ketika saya masih di bangku sekolah, saya termasuk siswa yang hampir setiap hari Senin mengikuti upacara bendera. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lantang, sembari memberi hormat kepada seonggok kain dua lapis yang dijahit menjadi satu bagian berwarna merah dan putih yang disebut sebagai “Sang saka merah putih”.
Bukan, artikel saya kali ini sangat jauh dari cacian dan makian saya terhadap bendera tersebut, atau juga kepada para “Pengurus” negeri ini beserta sistemnya, yang tidak henti-hentinya membuat rakyat menangis, setidaknya itu yang saya tahu dari membaca koran dan media elektronik setiap harinya. Entah kenapa, semakin hari semakin bebal pikiran saya tak kala membaca setiap berita akan berbagai keputusan para pemimpin negara ini, yang semakin tidak berpihak pada rakyat pada umumnya, dan rakyat kecil pada khususnya. Semakin hari semakin menipis rasa percaya diri saya, bahwa negara ini, negara yang “katanya” memperjuangkan kemerdekaan dengan segenap tumpah darah segala unsur masyarakat, untuk bisa bangkit dan menunjukkan jati diri pada dunia. Terdengar terlalu muluk?? Mungkin saja jika melihat betapa negara ini TIDAK PERNAH TIDAK terlepas dari berita menyakitkan setiap harinya.
Sampai suatu ketika, saya melihat seseuatu yg berbeda. Sesuatu yang, mungkin oleh sebagian orang bukan cerita baru, menggugah rasa nasionalisme saya...
Momen itu adalah tatkala segelintir orang berjumlah 11 pemain, memasuki sebuah bangunan yang disebut stadium, dan berjuang menghadapi 11 pemain yang lain dalam sebuah kompetisi. Sudah dapat ditebak dari awal paragraf bahwa itu adalah kompetisi sepakbola ASEAN yang normal digelar setiap 2 tahun.
Saya tidak akan menyangkal bahwa dalam pelaksanaannya, bahkan dalam persiapannya sekalipun, tidak sedikit berita negatif yang tersiar. Mulai dari pelatih Alfred Riedl yang dianggap pembangkang oleh Induk Sepakbola Indonesia (silahkan merujuk kepada artikel sepakbola sekitar 5 bulan yang lalu) sampai yang teraktual adalah politasasi sepakbola. Terkesan saya sering kali
mengatasnamakan berita buruk?? Maaf saja, namun memang demikian kenyataannya. Kecuali anda ingin menutup kedua kuping anda, dan membutakan kedua mata anda.
Namun, kesampingkanlah semua berita itu, silahkan anda datang ke stadium dan, kalau anda beruntung, duduk dengan manis sampai 10 menit menjelang laga dimulai. Ya, itu adalah momen menyanyikan lagu Indonesia Raya. Momen menyanyikan lagu kebangsaan yang, sebagaimana ditulis pada awal artikel bahwa setiap hari senin para siswa berseragam lazim (wajib) menyanyikannya, menggetarkan hati saya. Sekitar 70.000 penonton sontak berdiri dan menyanyikan lagu itu bersama-sama, seakan-akan ada seorang dirigen mengkomando mereka, berdiri di tengah lapangan. Momen yang membuat saya hampir menangis atau bahkan saya sempat meneteskan air mata, seakan saya tidak pernah menyanyikan lagu ini sebelumnya. Bulu kuduk saya tersengat, seraya tangan saya mengepal. Dengan lantang dan lugas saya menyanyikannya, riuh terbawa suasana penuh emosi. Saya meyakinkan diri untuk berpendapat bahwa sebagian besar penonton di stadium tersebut juga berpendapat seragam seperti saya. Momen yang bisa, untuk sejenak, melupakan segala masalah kebangsaan yag kita hadapi, dan bergembira terhadap bangsa ini. Saya merasakan momen ini ketika Indonesia berhadapan dengan Thailand, dimana skor akhir berkesudahan 2-1 untuk timnas Indonesia.
Siapa yang menyangka, sebuah bangunan usang berkapasitas kurang lebih 90.000 penonton tersebut menjadi sebuah ajang Pesta Rakyat, melebihi antusiasme pemilu yang juga bertakjuk pesta rakyat, hanya saja disisipi kata “demorasi” ditengah-tengahnya. Pesta yang tidak hanya diperuntukkan bagi penonton yang memiliki tiket masuk stadion, namun juga penonton yang tidak memilikinya dengan menggelengserkan tubuh mereka di depan sebuah TV raksasa di luar stadium, sebagaimana yang saya lihat dengan mata kepala sendiri ketika Indonesia menghadapi Fipilina pada leg kedua semifinal. Pesta rakyat yang tidak memperdulikan posisi anda, dari presiden sampai tukang sate keliling, dari tua sampai unyu-unyu , bahkan para bintang sandiwara televisi turut menyertai. Semua larut dalam rangkuman acara yang berdurasi 2x45 menit, dengan momen paling luar adalah 10 menit menjelang dimulainya pertandingan, dan sesat setelah wasit meniup peluit panjang.
Apa yang saya rasakan dan tekankan adalah, meskipun sebagian besar bangsa ini tidak begitu nyaman dengan negara ini, setidaknya menurut saya, namun untuk sesaat bangsa ini sanggup untuk menyuarakan rasa nasionalisme mereka. Rasa nasionalisme, yang makin tenggelam oleh perubahan zaman, makin tenggelam oleh perilaku oknum tidak bertanggung jawab, terwujudkan oleh dukungan kepada anak-anak tumpah darah bangsa dalam sebuah kompetisi yang mengatasnamakan Indonesia. Silahkan ditengok, setiap ada kompetisi, yang umumnya berpredikat kompetisi olahraga, pasti akan terselip diantara ribuan penonton sebuah bendera sang Saka merah-putih. Kesampingkan profesi anda, apakah itu pelajar, tenaga kerja luar negeri, ataupun apapun itu, sontak terpanggil membela nama bangsa meskipun berada pada jarak ribuan kilometer jauhnya dari tanah air.
Terlalu naif apabila saya berpendapat bahwa rasa nasionalisme hanya timbul pada saat kompetisi olahraga, hanya saja mungkin saat ini hanya inilah “momen” kita untuk menunjukkan rasa nasionalisme kita. Ya, kita butuh “momen”, dan apabila sekarang ini adalah “momen” yang ditunggu-tunggu segelintir orang yang memang sudah menunjukkan rasa nasionalisme mereka sebelum kompetisi ini berjalan, biarkanlah “momen” ini berjalan sebagaimana mestinya. Apapun itu, untuk sesaat ataupun selamanya, saya dapat berkata dengan lantang “Saya bangga menjadi bangsa Indonesia”
Tulisan ini murni pemikiran saya belaka, tanpa ada maksud untuk menghakimi ataupun memberi nilai buruk pada pihak lain.
0 komentar:
Poskan Komentar